![]() |
| Selalu sehat, sukses, enteng rejeki, diberkahi dan dilindungi Allah ya, Sayang ;*.. |
Selasa, 15 Januari 2013
Rabu, 26 Desember 2012
Apa Cita-cita Kamu?
“Kamu mau jadi apa?” kayaknya pertanyaan ini sering muncul
pas kita lagi kecil, TK atau SD. Sampe-sampe dulu Kak Ria Enes punya lagu
andalan sama Susan “Susan susan susan.. Besok gede mau jadi apa? Aku kepingin
pinter, biar jadi dokter” (duuh.. ketauan deh anak jaman 90-an ;D). Nah.. Pasti
diantara kita jawabannya kayak Susan, jadi dokter, pilot, polisi atau
pramugari. Gw sendiri kepengen jadi WaRa (Wanita udaRa, kalau di polisi sebutannya
Polwan), pilot, pemadam kebakaran sampe astronot. Saking ngebetnya gw sama kakak
cowok gw buat jadi pilot kita jadiin lemari baju sebagai kokpitnya dan
kebetulan bokap beliin kita masing-masing overall pilot yang warnanya orange
dan kalau lagi disuapin sore-sore kita masuk ke itu lemari dan ngayal jadi
pilot pesawat tempur, katanya dulu gw tomboy banget jadi ga heran lah ya
imajinasinya maskulin gitu.
Dibandingkan anak jaman sekarang mungkin mereka lebih
bervariatif cita-citanya, kayak gw pernah denger ada yang mau jadi chef, pesinetron sampe
atlit bola biar kayak Messi. Wiiiis.. Canggih bener ya! Mungkin ini karena saking
bebas dan canggihnya informasi dan teknologi yang dengan mudah bisa mereka (baca
: anak jaman sekarang) akses dengan cingcai. Bayangin aja mungkin kelas 4 SD
udah mulai punya FB/twitter bahkan BB atau ipad yang juga follow atau kepoin
idola-idolanya, ga heran mereka akan menjadikan sosok itu sebagai figur favorit
dan masa depannya. Sedangkan jaman gw SD dulu sinetron paling oke ya Si Manis
Jembatan Ancol, acara hiburannya juga ga banyak. Kalau sekarang lo nonton TV
jam 8-9 pasti ditawarin acara musik ber-yeyeye lalalala , gossip atau sinetron, yang menurut gw ini
bisa pengaruhin “keinginan lo untuk menjadi siapa”.
Sebenernya sih sah-sah aja, toh bisa motivasi untuk menjadi
apa yang dicita-citakan tapi juga dengan bantuan orang tua yang ngawasin atau
kasih wejangan ini-ono nya, ga lucu kan anak kecil tapi tampil dewasa kayak
Julia Peres? Yang tadinya gemes pengen
nyubit malah komen “Yaampun.. Umurnya berapa? Tante banget gayanya..”. Atau
saking pengen jadi kayak Nia Ramadani kesehariannya kayak bawang merah, galak
dan sirik sama orang lain.. Hiiii…
Jumat, 23 November 2012
War Remnants Museum, Reunification Palace and Katedral Notre Dame
Oke, hari keempat di Ho Chi Minh saatnya city tour. Sekitar jam setengah 9 pagi kita dijemput sama Chi, tour guide. Sekitar setengah jam kita nunggu di bis warna kuning, Chi keliling ke hotel-hotel untuk jemputin peserta yang lain. Agak ngaret juga sih sebenernya, semalem di bilanginnya kita kudu siap jam 8 pagi tapi city tour baru mulai jam 9-an. Kunjungan pertama ke War Remnants Museum, semacam museum Pusat Sejarah TNI yang ada di Cawang itu loh. Kalo biasanya parkiran diisi sama mobil atau motor, di museum ini parkiran dipenuhin sama pesawat dan tank baja punya tentara AS yang merupakan sisa perang vietnam.
Disini kita dikasi waktu selama 1 jam untuk menjelajah museumnya. Hampir sama kayak di museum sejarah lainnya, per-ruangan menceritakan senjata yang dipake dan kesedihan akibat perang dalam "cerita bergambar" alias foto-foto korban kekejaman perang saat itu, mulai dari anak-anak sampe orang tua yang harus kehilangan anggota keluarga atau bahkan anggota badannya, ada yang kena cairan kimia, serpihan bom, peluru atau ranjau darat. Walopun itu bukan negara sendiri tapi gw juga kebawa merinding dan "nyeeees" ngeliatnya, semoga
korban perang dimana pun berada beristirahat dengan tenang, amin. Puas menjelajah Vietnam jaman baheula, lanjut ke Reunification Palace alias istana dan tempat tinggal Raja Vietnam. Terdiri dari 6 lantai, mulai dari ruang bawah tanah yang digunakan sebagai ruang perlindungan dari serangan bom, kita juga diajak menelusuri lorong-lorong bawah tanah yang dipake selama perang. At the roof top there are helipad and dancing room nya. Don't forget to take photo because it's one of the best views of Saigon that you will get. Biasanya untuk menjamu tamu atau meeting dilakukan di lantai 1 dan 2. Ada juga ruang tak-tik alias tempat diskusi Raja dan jendral-jendral buat nyusun strategi perang, di ruangan ini dindingnya penuh ditempel dengan peta Vietnam. Untuk santainya juga disini ada theather alias bioskop dan biliar. Oh ya, dekorasi, perabotan, kristal dan hiasan dindingnya kereeeen bgt, feel like back in time to the 1960's and 1970's.

Kaki rasanya uda cenat-cenut tapi masih kudu ke Katedral Notre Dame di pusat kota dan Kantor Pos Ho Chi Minh untuk nikmatiin bangunan peninggalan Prancis. Bangunan-bangunan lama ala arsitektur Eropa terpelihara sangat baik. Katedral Notre Dame terbuat dari bata merah yang berdiri kokoh di tengah-tengah taman dan jalanan HCM. Di depan Katedralnya ada taman dan patung bunda maria, disini kita juga bisa main sama kawanan burung merpati, dideketin/gerak dikit weeeerrr mereka langsung terbang kesana kesini.
Sepanjang city tour, Chi si tour guide banyak cerita, hampir ada kemiripan cerita sosial antara di Indonesia dan Vietnam. Di Vietnam people can't living together without wedding, bahkan for a man wedding is a precious moment in their life. Mereka bisa gila-gilaan ngeluarin budget untuk mewujudkan hari bahagia seumur hidup itu. Pantesan sepanjang jalan banyak toko atau butik bridel, kata gw dalem hati. When you got 25 years old and not yet married is a big problem for a man. Terus juga Chi cerita kalo young boy ga ngerokok sama dengan you are a gay! Hampir mirip kayak abegeh jaman sekarang yang suka diledekin "cemen" sama temen-temennya kalo ga ikutan ngerokok juga. Di tengah padetnya traffic di HCM, Chi lanjutin cerita kalo sekarang lagi ada juga perubahan budaya di kaum muda, kalau mereka makan di restoran atau cafe menandakan status sosial mereka sebagai yang ber-uang, jadi sekarang mereka mulai berhenti masak dan makan dirumah tapi lebih memilih ke restoran.
Setelah asik jalan-jalan dan belajar sejarah Vietnam, it's time for shopping. Yak, kita ke Pasar Ben Thanh. Kalau mau cari souvenir khas Vietnam silahkan mengunjungi pasar malam ini, mulai dari kaos, kopi dan dompet-dompet lucu semua ada disini. Nah.. Pedagang disini rata-rata orang melayu jadi bisa dan ngerti bahasa Indonesia, kalau misalkan mau ngobrol sama temen tentang barang atau harga aku mensiasatinya ngomong pake bahasa sunda atau ala abegeh kayak "mehong tau" dan pelan-pelan ninggalin kiosnya. Pengalaman dari kios pertama yang kita kunjungin yaitu jualan koper-koper, kalau misalkan lebih murah dari di Jakarta dan modelnya lucu rencananya kita memang mau beli, akhirnya gw tanya lah ke si Mbak penjualnya karena setelah dihitung harganya jauh lebih mahal di Ben Thanh ga jadi lah kita belinya, ga berapa lama si Mbak kayaknya kesel dan kita pun kena damprat (kalo diliat dari nada suara dan muka keselnya sambil ngeliatin kita).
Total expenses :
Lunch : VND 315,000
Ticket Reunion Palace : VND 225,000
Dinner : VND 280,000
Dinner II : VND 275,000
Hotel : $204.00
Hati-hati ya dengan tas, kamera dan barang yg lo bawa pas jalan-jalan, berkali-kali diingetin kalo disana lagi marak "copet sepeda motor", hampir sama kayak di Indo, pas lo lengah tiba-tiba barang bawaan lo bakal ditarik atau diambil sama penggendara motor trus wuuuus kabur.
Disini kita dikasi waktu selama 1 jam untuk menjelajah museumnya. Hampir sama kayak di museum sejarah lainnya, per-ruangan menceritakan senjata yang dipake dan kesedihan akibat perang dalam "cerita bergambar" alias foto-foto korban kekejaman perang saat itu, mulai dari anak-anak sampe orang tua yang harus kehilangan anggota keluarga atau bahkan anggota badannya, ada yang kena cairan kimia, serpihan bom, peluru atau ranjau darat. Walopun itu bukan negara sendiri tapi gw juga kebawa merinding dan "nyeeees" ngeliatnya, semoga
korban perang dimana pun berada beristirahat dengan tenang, amin. Puas menjelajah Vietnam jaman baheula, lanjut ke Reunification Palace alias istana dan tempat tinggal Raja Vietnam. Terdiri dari 6 lantai, mulai dari ruang bawah tanah yang digunakan sebagai ruang perlindungan dari serangan bom, kita juga diajak menelusuri lorong-lorong bawah tanah yang dipake selama perang. At the roof top there are helipad and dancing room nya. Don't forget to take photo because it's one of the best views of Saigon that you will get. Biasanya untuk menjamu tamu atau meeting dilakukan di lantai 1 dan 2. Ada juga ruang tak-tik alias tempat diskusi Raja dan jendral-jendral buat nyusun strategi perang, di ruangan ini dindingnya penuh ditempel dengan peta Vietnam. Untuk santainya juga disini ada theather alias bioskop dan biliar. Oh ya, dekorasi, perabotan, kristal dan hiasan dindingnya kereeeen bgt, feel like back in time to the 1960's and 1970's.
Kaki rasanya uda cenat-cenut tapi masih kudu ke Katedral Notre Dame di pusat kota dan Kantor Pos Ho Chi Minh untuk nikmatiin bangunan peninggalan Prancis. Bangunan-bangunan lama ala arsitektur Eropa terpelihara sangat baik. Katedral Notre Dame terbuat dari bata merah yang berdiri kokoh di tengah-tengah taman dan jalanan HCM. Di depan Katedralnya ada taman dan patung bunda maria, disini kita juga bisa main sama kawanan burung merpati, dideketin/gerak dikit weeeerrr mereka langsung terbang kesana kesini.
Sepanjang city tour, Chi si tour guide banyak cerita, hampir ada kemiripan cerita sosial antara di Indonesia dan Vietnam. Di Vietnam people can't living together without wedding, bahkan for a man wedding is a precious moment in their life. Mereka bisa gila-gilaan ngeluarin budget untuk mewujudkan hari bahagia seumur hidup itu. Pantesan sepanjang jalan banyak toko atau butik bridel, kata gw dalem hati. When you got 25 years old and not yet married is a big problem for a man. Terus juga Chi cerita kalo young boy ga ngerokok sama dengan you are a gay! Hampir mirip kayak abegeh jaman sekarang yang suka diledekin "cemen" sama temen-temennya kalo ga ikutan ngerokok juga. Di tengah padetnya traffic di HCM, Chi lanjutin cerita kalo sekarang lagi ada juga perubahan budaya di kaum muda, kalau mereka makan di restoran atau cafe menandakan status sosial mereka sebagai yang ber-uang, jadi sekarang mereka mulai berhenti masak dan makan dirumah tapi lebih memilih ke restoran.
Setelah asik jalan-jalan dan belajar sejarah Vietnam, it's time for shopping. Yak, kita ke Pasar Ben Thanh. Kalau mau cari souvenir khas Vietnam silahkan mengunjungi pasar malam ini, mulai dari kaos, kopi dan dompet-dompet lucu semua ada disini. Nah.. Pedagang disini rata-rata orang melayu jadi bisa dan ngerti bahasa Indonesia, kalau misalkan mau ngobrol sama temen tentang barang atau harga aku mensiasatinya ngomong pake bahasa sunda atau ala abegeh kayak "mehong tau" dan pelan-pelan ninggalin kiosnya. Pengalaman dari kios pertama yang kita kunjungin yaitu jualan koper-koper, kalau misalkan lebih murah dari di Jakarta dan modelnya lucu rencananya kita memang mau beli, akhirnya gw tanya lah ke si Mbak penjualnya karena setelah dihitung harganya jauh lebih mahal di Ben Thanh ga jadi lah kita belinya, ga berapa lama si Mbak kayaknya kesel dan kita pun kena damprat (kalo diliat dari nada suara dan muka keselnya sambil ngeliatin kita).
Total expenses :
Lunch : VND 315,000
Ticket Reunion Palace : VND 225,000
Dinner : VND 280,000
Dinner II : VND 275,000
Hotel : $204.00
*PS : ini itungannya untuk 5 orang ya, dibagi 5 aj per-itemnya
Tips:Hati-hati ya dengan tas, kamera dan barang yg lo bawa pas jalan-jalan, berkali-kali diingetin kalo disana lagi marak "copet sepeda motor", hampir sama kayak di Indo, pas lo lengah tiba-tiba barang bawaan lo bakal ditarik atau diambil sama penggendara motor trus wuuuus kabur.
Minggu, 21 Oktober 2012
Long road, long road and looong road
Siap-siap 6 jam duduk manis di mobil buat menempuh perjalanan Siam Reap-Phnom Penh, sewa mobilnya $ 70 dan pake Camry, kebayang donk kita berlima ditambah carrier segede bocah 3 taun, hehehe.. Kalo lo kira traffic dan driver di Jakarta uda bikin emosi, silahkan nikmati perjalanan Siam Reap-Phnom Penh deh.. Lebih dahsyat boook. Jalanannya kayak antar propinsi di Indonesia, tapi dapet bonus sapi dan anjing yang bakalan sering main "cing jongkok" ke jalan rayanya, jadi ga heran si mas-mas supir bakalan ngebut trus tiba-tiba rem mendadak dan klakson mobil bakalan sering di pencet-pencet. Kita dapet driver yang ga jago bahasa inggris, awalnya sih ga masalah karena paling cuma tanya basa-basi aj. Kendala bahasa baru muncul pas kita uda sampe di Phnom Penh, kita minta dianterin ke terminal atau agen travel yang jual tiket bis ke Vietnam, ups sori.. Gw lupa cerita, jadi tujuan kita selanjutnya adalah Vietnam, nah dari Siam Reap kudu ke Phnom Penh trus naik bis sekitar 8 jam baru deh sampe Vietnam. Lanjut ya tentang driver dan kita. Si mas supirnya ngira kita minta dianter ke kedutaan Vietnam, setelah ngomong bahasa inggris sambil nunjuk bis bilang Vietnam.. Vietnam, akhirnya doi ngerti dan anterin kita ke agen bis di Phnom Penh, harga tiketnya $ 55 untuk 5 orang dan kudu duduk manis lagi selama 7 jam, maaf ya pantat kamu semakin tepos deh.. Setelah beli tiket, kita makan siang. Lagi-lagi bahasa yang jadi kendala, mau pesen menu aj susah bgt, Mbak-mbaknya ga ngerti bahasa inggris dan kita nya pun ga bisa bahasa Kamboja, untungnya ada bapak-bapak yang bisa 2 bahasa jadi segala pemesanan dan pembayaran dibantuin bapak itu, nuhun very much ya, Pak!
Setelah itu perjalanan darat menuju Vietnam pun dimulai, sekitar 2 jam kemudian kita kudu nerusin pake kapal feri, bentar kok paling cuma 10 menit lah. Abis itu bablas lewat jalan raya lagi. Nah.. Karena kita pindah negara dari Kamboja ke Vietnam jadi kudu lewatin border check. Jadi pas pertama kali naik bis, si kondekturnya bakal ngumpulin semua passport penumpang, begitu sampe border check satu-satu mulai ke petugas imigrasi untuk foto dan ambil cap jari lagi. Nah.. Di pos kedua lo kudu nurunin semua tas yang lo bawa dan kayak di imigrasi biasanya, diliat passport dan dicap sama petugas imigrasinya. Kayaknya kudu beli soft case passport deh, jadi bisa nandain kalo itu punya lo, begitu nama lo dipanggil bakalan nyaru "eh itu gw bukan ya", secara spelling name-nya agak terdengar aneh, nama gw Cintin dan dibaca Sinsin dan pas di petugas lambai-lambai passport ke atas ga bakalan langsung ngeh kalo itu passport lo, secara passport ijo agak lumayan banyak/sama kayak negara lain. Ati-ati juga dengan barang bawaan lo, ada orang Philippina yang keilangan ranselnya padahal ditaro dibawah kakinya! Akhirnya sekitar jam 9 malem kita sampe di kawasan hotel, suasana Ho Chi Minh hampir mirip Jakarta dan Bangkok, padet dengan tempat belanja dan traffic yang aduhai.
Bich Duyen Hotel jadi tempat berteduh selama di Ho Chi Minh. Cacing-cacing di perut mulai nyanyi-nyanyi jadi sekitar jam 10 malem gw, Ava dan Kang Degi keluar untuk kasih makan mereka. Gw dan Ava keukeuh pengen makan KFC atau Lotteria, kayaknya pas di bis jarak antara hotel dengan KFC deket bgt tapi ternyata nehi-nehi..Lumayan jauh bok! Jalanan menuju KFC lumayan seru, kiri-kanan kita banyak cafe, butik dan kaki lima tempat tongkrong abegeh disini, perempuan Vietnam cantik-cantik bgt. Setelah jalan setengah jam akhirnya liat si opa KFC dan kita dengan napsunya langsung masuk, tapi ternyata eng ing eeenngg.. Bayarnya kudu pake dong alias mata uang Vietnam (kita kira sama kayak di Kamboja, bisa pake USD), ya udah mau ga mau akhirnya kudu cari money changer dulu. Beberapa kali nanya tempat money changer, yang ditunjukkin selalu ATM, akhirnya berhasil nemu dan nuker uang. Setelah sampe KFC ada ujian baru yang harus dilewati untuk memberi makan cacing-cacing, apa itu? "Sorry we are close", deeeenggg. Ok deh cari tempat makan lainnya dan nemu asian food yang rasanya enak dengan porsi besar. Abis makan ceritanya cuma jalan balik ke hotel, mandi trus tidur ;D.
Total expenses :
Sewa mobil: Siem Reap - Phnom Penh $ 70
Ticket bis: Phnom Penh - Ho Chi Minh $ 55
Lunch : $ 16.20
Dinner di Border : $ 10
Dinner di Ho Chi Minh : $ 7
*PS : ini itungannya untuk 5 orang ya, dibagi 5 aj per-itemnya
Tips from today :
Jadwal bis Kamboja-Vietnam paling pagi jam 08.00 dan yang terakhir 15.00
Bich Duyen Hotel jadi tempat berteduh selama di Ho Chi Minh. Cacing-cacing di perut mulai nyanyi-nyanyi jadi sekitar jam 10 malem gw, Ava dan Kang Degi keluar untuk kasih makan mereka. Gw dan Ava keukeuh pengen makan KFC atau Lotteria, kayaknya pas di bis jarak antara hotel dengan KFC deket bgt tapi ternyata nehi-nehi..Lumayan jauh bok! Jalanan menuju KFC lumayan seru, kiri-kanan kita banyak cafe, butik dan kaki lima tempat tongkrong abegeh disini, perempuan Vietnam cantik-cantik bgt. Setelah jalan setengah jam akhirnya liat si opa KFC dan kita dengan napsunya langsung masuk, tapi ternyata eng ing eeenngg.. Bayarnya kudu pake dong alias mata uang Vietnam (kita kira sama kayak di Kamboja, bisa pake USD), ya udah mau ga mau akhirnya kudu cari money changer dulu. Beberapa kali nanya tempat money changer, yang ditunjukkin selalu ATM, akhirnya berhasil nemu dan nuker uang. Setelah sampe KFC ada ujian baru yang harus dilewati untuk memberi makan cacing-cacing, apa itu? "Sorry we are close", deeeenggg. Ok deh cari tempat makan lainnya dan nemu asian food yang rasanya enak dengan porsi besar. Abis makan ceritanya cuma jalan balik ke hotel, mandi trus tidur ;D.
Total expenses :
Sewa mobil: Siem Reap - Phnom Penh $ 70
Ticket bis: Phnom Penh - Ho Chi Minh $ 55
Lunch : $ 16.20
Dinner di Border : $ 10
Dinner di Ho Chi Minh : $ 7
*PS : ini itungannya untuk 5 orang ya, dibagi 5 aj per-itemnya
Tips from today :
Jadwal bis Kamboja-Vietnam paling pagi jam 08.00 dan yang terakhir 15.00
Jumat, 21 September 2012
Once Upon a Time in Cambodia #dayone
Halloooooh, uda lama juga ya eike ga posting. Eike mau cerita liburan ke Kamboja dan Vietnam yak bareng temen-temen kantor eike. Dari bulan maret eike pindah kantor bok, jadi ini pengalaman travelling pertama sama temen-temen kantor. Sekitar bulan Juni, gw, Ava, Arga, Mbak Neno dan Kang Degi mulai hunting promo tiket buat liburan ke Kamboja dan Vietnam, akhirnya dapet pake Jet Star. Rutinitas kantor selama senin-jumat kadang bikin jenuh jadi begitu dapet kesempatan cuti 4 hari dan itu travelling bikin gw nyengir 5 jari. Akhirnyaaa..Jeng jeng jeng jeeeeng.. 11 September pun tiba, berbekal carrier punya si Arga dan doa ayah-bunda dan pacar (hehehe) akhirnya eike pun cus liburan.
Resolusi liburan gw adalah kawasan asia, iya, iya alesannya karena lebih murah dibanding ke Aussie, Amrik atau Eropa. Termasuk ke Kamboja, penasaran bgt sama negara yang satu ini, walaupun yang kebayang di pikiran gw adalah cuma Khmer Merah dan Angelina Jolie dengan Angkor Wat Temple-nya. Travelling kali ini nyobain pake pesawat Jet Star, dengan tiket seharga IDR 1,7 (CGK-Siam Reap, Vietnam-CGK). Kudu transit dulu di Changi, baru setelah itu takes 2 hours for landing in Siam Reap Airport.
Dari balik kaca jendela pesawat pemandangan yang keliatan adalah lapangan/reremputan dengan bangunan yang di tiap ujung kanan-kirinya ada kayak ukirannya, hampir mirip bangunan Thailand gitu, "Soetta taun 80-an gini kali, ya", kata gw dalam hati, mungkin karena bukan bandara utama di Kambodia jadi ga terlalu besar dan mewah. Imigrasi disini lumayan ketat, selain kudu nunjukkin passport juga harus foto dan cap sidik jari, untuk WNI ga perlu ngurusin/bayar visa loh. Oh iya, selama di Kamboja bisa pake kartu XL, malah gretong alias gratis pemakaian selama 3 hari dan ga pake lemot buat bbm-an atau browsing, cihui bgt deh, jangan lupa nelfon 817 ya sebelum keberangkatan buat disetting roaming international atau apanya lah itu sama CS XL-nya.
Begitu keluar bandara kerasa banget 30 derajatnya, you should wear short pants and tshirt deh kalo mau kesini. Bangunan dan suasana jalan-lalu lintasnya hampir mirip kayak di Indonesia. Pernah jalan ke Jawa Tengah lewat darat? Nah.. Pemandangan awalnya kayak gitu, banyak sapi/kerbau, rerumputan dan jarak antara satu rumah dan lainnya agak jauhan. Setelah itu kayak di Bali, kiri-kanan banyak bangunan hotel bintang satu, cafe, restoran dan souvenir shop. Ada RTH-nya juga alias Ruang Terbuka Hijau, hampir sama kayak di Indonesia banyak orang yang ngadem sambil makan atau ngobrol dengan gerombolannya, tamannya bersiiih bgt. Kita nginepnya di The Siam Reap Hostel, sekitar 15 menit dari bandara, dari bandara ke hostel kita naik local transport semacam tuk-tuk kebetulan hostelnya berbaik hati ngasi service penjemputan.
| Kapasitas tuk-tuk muat untuk 2-3 orang, ditambah carrier dan daily pack si penumpang, kayak andong tapi diganti mesin. Wuuuusss.. Segeeer kena angin. |
| Pilihan sarapannya ga variatif, cuma ada pancake, roti dan sereal aj, wajar lah ya dengan harga kamar segitu.. |
Akhirnya sampai juga di hostelnya, bener-bener Asia bgt pernak-pernik atau interior hotelnya. Kita dapet kamar di lantai 3, ga ada lift donk boook dan untungnya ga bawa travelling bag, jadi pas bawa gembolan di tangga ga menciptakan suara berisik roda di-gerek-gereknya. Sayangnya gw lupa foto penampakan kamarnya, selama 2 hari nginep cukup membayar $ 122 untuk 2 kamar, kamarnya rapi dan bersih. Tapi, gatau kenapa hampir 3 kali ngerasain mati lampu pas malem hari-nya.. Hehe..
Kunjungan malem pertama di Siem Reap adalah dinner di cafe deket hostel, nama tempatnya g4uL abis "hip-hop", kayaknya itu salah satu tempat tongkrongan abegeh Siem Reap. Baru sekitar jam 6 sore tapi musik jedag-jedugnya uda kenceng, makanan yang kita pesen spesial bgt yaitu nasi goreng (hihi), tapi porsinya gede bgt, satu porsi diabisin sama 3 orang donk! Kalo kesini kudu nyobain Yeo's Lychee, seger dan enak bgt, sayangnya di Indonesia Yeo's cuma ada yang varian cingcau, huhu.. Jadi pengen lagi deh.. Setelah isi avtur perut alias makan, kita ke Night Market Siem Reap, bangunannya kayak komplek di Pasar Baru. Barangnya ada tas, dompet, kaos, patung, perhiasan dan lainnya khas Kamboja, disini kudu pinter nawar. Awalnya si om pedagang nawarin tas $ 8 tapi karena si Ava, temen gw jago nawar, malah dapet $ 11 untuk 3 tas, canggih kan si Ava!
| Mari makan.. |
| The Siam Reap Night Market |
Uda pada mulai kalap belanjanya, untung ada Mbak Neno yang ngigetin kalo besok masih banyak tempat yang dikunjungin jadi kudu tahan napsu belanjanya. FYI, belanja di Siem Reap masih bisa pake dollar USD, bahkan bole campur antara dollar dengan riel (mata uang kamboja). Setelah pegel muter-muter Night Market, kita ke toko kelontong disana beli minuman manis dan potato chip nya. Lagi-lagi dapet minuman yang enak rasa strawberry, botolnya warna pink dan bergambar buah-buahan versi kartun, itulah cerita hari pertama di Siap Reap dan komentarnya adalah seru!
Total expenses :
Hotel di Siem Reap : $ 112
Dinner : $ 19.50
Cemilan malem : $ 2.50
*PS : ini itungannya untuk 5 orang ya, dibagi 5 aj per-itemnya
Tips from today :
1. Pastiin sim card lo bisa dipake, jadi bisa telfon CS operator lo untuk call setting, bisa juga sih beli provider lokal.
2. Sharing menu makan, maksudnya pilih menu yg bisa untuk rame-rame jadi bisa ngerasain varian menu yang ada, kalo yang porsi makannya dikit bisa juga pesen satu untuk dua orang, ngehemat juga loh ;P
Vacations are your best chance in the year to get in some real living,
to get out of the job-as-life box, off automatic pilot, and rediscover
your passions, enthusiasms, friends, family, and the vitality of
partaking in the world outside career brainlock. Social scientists have
found that leisure experiences increase positive mood, act as a buffer
against life's setbacks, and open the door to the best times of our
lives. -JOHN DE GRAAF-
Langganan:
Postingan (Atom)


